July 12, 2013

Well played.

Again, ini Karma.

Kau tampar aku kembali dalam diam.
Kau tampar aku kembali tanpa aku sedar.
Kau tampar aku kembali tatkala aku sedang bermimpi untuk hidup dan bernafas bersama kau.
Kau tampar aku kembali tatkala lagaknya kau acah-acah sedang beri sepenuh perhatian pada aku tanpa aku sedar.

Tanpa aku sedar, kau juga pandai mengikut rentak, menyusun langkah dalam permainan ini.

Aku diam.
Diam atas sebab aku fikir permainan aku punya seribu kali kesan lebih mendalam pada kau.
Diam atas sebab aku tahu aku tidak punya sekelumit hak pun untuk mempertikaikan permainan kau.
Diam atas sebab aku tahu puncanya dari aku.

Namun hati aku terkesan.
Punya satu, dua atau tiga cebisan rabak.
Atau mungkin lebih?

Atas sebab aku tidak pernah punya fikiran negatif terhadap kau, langsung.
Atas sebab aku tidak pernah punya rasa syak terhadap kau, langsung.
Atas sebab aku percaya kau.

Pernah satu, dua atau tiga kali aku jumpa beberapa bukti.
Namun sering aku bikin endah tak endah.
Bising dua tiga hari, kemudian aku bikin bukti itu jadi gurauan.
Gurauan yang bisa bikin aku ketawa, bisa bikin diri aku tenang.
Walau kadang jadi tegang.
Aku senyum, aku ketawa.

Atas sebab aku percaya kau.

Dan sekarang aku diam.
Atas sebab aku tidak punya idea langsung atas rasa apa yang sedang bermain dalam hati tika ini.

Dan ini yang sedang cuba aku pegang,

" Kuburkan saja apa yang aku rasa. Jangan pernah ungkap. Biar aku tanam dalam-dalam hingga aku sendiri tak bisa ingat kisahnya. "

Well played.
And well done.